Rabu, 13 Juni 2012

Monster - Big Bang



It’s been a while. Seems like you’re doing better since I’ve seen you last.
You got prettier too, though you always looked beautiful in my eyes
But you seem a little different today; you seem unusually cold
The gaze you put on me is full of pity, in front of you, I look small

I act like it’s fine, I try to change the subject.
I have a lot I want to ask, but you cut me off.
Your hair flows in the wind, and it hits me on my cheeks and leave.
You turn around and leave just like that, would I look silly if I try to hold you back?

I cant think of anything to say, Trembling, you take two steps back.
Your words that you are afraid of me, You are the one that makes me crazy

I love you, baby i’m not a monster
You know the old me, When the time passes, I will have to disappear, You’ll know then baby

I need you, baby i’m not a monster
You know me, It ends, but if you leave me like this, I will die
I’m not a monster.

You say, let us be together forever no matter what happens.
You say, let us be together when we’re happy and when we’re sad.
You don’t (won’t) say that tomorrow..
I say, let’s love today as if it’s the last day.

Yo, the world without you is like a capital punishment
The world doesn’t go correctly without you
Your existence has become an incurable illness for me

Everyone may look at me with judging eyes,
but what really hurts is the fact that you have become a part of that ‘everyone.

Don’t go, Don’t go, Don’t go, Don’t leave me
Don’t do this, Don’t do this, Don’t do this, You don’t seem to be yourself

Still far apart, With love still divided

Don’t look for me, Don’t look for me, Don’t look for me, Don’t look for me
Last, last, last

Please remember the me that stood next to you
Please don’t ever forget me

I think I’m sick, I think I’m sick.
I think I’m sick, I think I’m sick.

Selasa, 05 Juni 2012

[FF] Monster




Title        : Monster
Author       : Shin-B
Main Cast    :
- Choi SeungHyun (TOP BigBang)
- Lee Park Bom (2NE1)
Support Cast :
-Kwon Jiyong (GDragon BigBang)
Lenght       : Ficlet
Genre        : Sad Romance
Rating       : PG-13
A.N          :
Bikin FF ini ngebut setelah denger lagu Monster - Big Bang. Lirik lagunya nyentuh baget :'D.
Happy Reading! ^^


*Seunghyun POV*

Aku terduduk di tepi kasur, mulai kesal dengan suasana canggung ini. Kubuka mataku perlahan, mencoba mencari setitik cahaya. Tapi nihil, aku tak dapat menemukan apapun. Gelap.

“Bom?” aku mencoba memecah keheningan.

“Hm?”

“Anni” ku coba menggapai tangan Bom, tapi dengan sigap Ia menarik tangannya.

“Aku harus pergi.” Kudengar suara langkah kaki yang mulai menjauh dan hilang dari indera pendengaranku.

“hhhh” aku mengerjap-ngerjapkan mataku.
“aaaarrrgh!” berteriak frustasi. Aku tak bisa melihat apapun! Tapi masih ku ingat paras cantik Bom, kekasihku. Aku tersenyum getir dan mulai merutuki diri sendiri.

--
Aku menghirup udara taman ini, segar. Sesegar ingatanku tentang kenangan di tempat ini, tentang canda-tawaku bersama Bom, aku tersenyum kecil mengingatnya, ketika Ia menyatakan cintanya padaku kekeke~

“Oppa, ada perlu apa kau mengajakku kemari?” melegakan sekali rasanya dapat mendengar suara lembut Bom lagi.

“Bogoshippo” ujarku tersenyum, dan merengkuh tubuhnya kedalam pelukanku. Menghirup dalam-dalam aroma rambutnya. Dia tak membalas pelukanku, tak seperti biasanya. Kulepaskan pelukanku.

“Gwenchanna?” ku pegang pipinya. Dan tak ada jawaban.

“Hmm aku sangat merindukanmu Bom-ah. Aku merindukan masa-masa bahagiaku denganmu Bom-ah. Kau ingat? Dulu kau stalker sejatiku kekeke~ Kau yeoja yang sangat menarik. Kau ingat? Saat kau terpergok olehku mengambil fotoku secara diam-diam, hm? Kau ingat? Disini cinta kita mulai terjalin, pada musim semi. Aku merindukan senyummu Bom-ah. Sayang sekarang aku tak bisa melihat wajahmu lagi.”

“HAJIMA!” aku terperanjat mendengar jeritan Bom tadi. Baru kali ini Ia berteriak padaku.

Aku mencoba menenangkannya, aku meraih-raih udara untuk menemukan rambutnya. Kuusap pelan pucuk rambutnya. Ia menepis tanganku.

“Wae?” tanyaku ringan.

“You scared me!” teriak Bom lagi.

“Look! Apa yang salah dengan matamu Oppa?! Mereka berbeda warna! You scared me!”

Kurasakan angin berhembus pelan, membuat rambutnya terbang ringan menyentuh pipiku. Kudengar langkah kakinya yang mulai menjauh dariku, berlari dariku. Hatiku sakit mendengar pernyataannya.

“Kajima..” lirihku menggapai udara. Berharap Bom masih ada di tempatmya.


--

Sudah berhari-hari Bom menghindariku, tidak mau menemuiku, bahkan enggan mengangkat ponselnya.

Sebenci itukah Ia?

Aku sangat merindukannya, bahkan mendengar suaranya saja sudah cukup untuk menghapus rasa rinduku. Hanya dia yang menemaniku selama ini, orangtuaku meninggal 3 tahun yang lalu, dan kini aku tak mempunyai siapa-siapa lagi. Tragis kah?

Ya Tuhaaaaan.. sekarang satu-satunya orang yang sangat aku cintai membenciku.

“Let us be together forever no matter what happens. Let us be together when we’re happy and when we’re sad.” Terngiang janjimu padaku pada musim semi di taman yang sama pada saat kau menyatakan cintamu padaku. Kau tersenyum tulus padaku saat mengucapkan itu, tak ada tanda kebohongan dalam matamu, tak ada keraguan dalam matamu yang membuatku merasa tak akan pernah aku melepaskanmu.

Sakit. Kau telah mengingkari janji yang kau buat Bom-ah. Tapi aku tak bisa membencimu, aku sangat mencintaimu.

“Hyung!” lengkingan suara itu membuyarkan lamunanku.

“Jiyong-ah?” jawabku sambil mencari dimana Ia berada.

Kurasakan tangan menyentuh pipiku.

“Aku disini, Hyung.” Ujar lelaki yang sudah kuanggap dongsaeng ini. Dari nada bicaranya terdengar parau.

“Gwenchanna Ji?”

“Hyung, neo gwenchanna?” dia balik bertanya padaku. Aku hanya tersenyum menjawabnya.

“Oh. Yongie boleh kupinjam ponselmu?”

“Untuk apa? Pakai saja ponselmu sendiri” jawab Jiyong bercanda.

“Ini hyung. Kau ingin menghubungi siapa? “

“Bom.” Jawabku seadanya

“OK. Ini”

Ku genggam ponselnya, mendekatkannya ke daun telingaku. Menunggu gelisah sampai akhirnya suara sambungan terhenti digantikan dengan suara yang sangat aku rindukan.

“Yeobseo?” ujar perempuan di sebrang sana. Aku diam tak menjawab.

“Yeobseo Jiyong-ah? Ada apa?”

“Bom-ah.. bogosippho” ucapku akhirnya.

*KLIK*

Sambungan terputus. Aku mendengus pelan, dadaku sesak, aku menarik nafas dalam-dalam. Kepalaku terasa berputar, kurasakan kesadaranku menurun, ku tutup mataku erat.

--

“Hyung! Gwenchanna?” kudengar suara Jiyong menghampiriku.

“Dimana ini? Kenapa aku disini?” dapat kurasakan ruangan ini sangat asing bagiku, bau obat kental diudara terhirup olehku.

“Rumah sakit. Hyung kenapa kau tak pernah menceritakan ini padaku?!” kudengar suara Jiyong mulai bergetar. Aku mengerti kemana arah pembicaraannya.

“Aku tidak ingin menyusahkan orang lain, Jiyong-ah”

“Orang lain? Kau menganggapku orang asing hyung?! Setidaknya aku harus mengetahui kondisimu yang seperti ini hyung!” katanya ditengah isakan tangisnya.

“Ya! Mianhae, uljima, kau namja kkekeke~” ujarku mencoba menghiburnya.

“Eottohke? Aku tak dapat menghentikan air mataku hyung. Hiks..”

“Jiyong bolehkah aku meminta sesuatu?”

“Marhebwa”

“Hubungi Bom untukku, now”

“Arraseo”

.......

“Yobseo Noona?” kudengarkan seksama percakapan Jiyong, tapi aku tak dapat mendengarkan apapun.

.......

“Mianhae eommoni. Kenapa bisa?!”

.......

“Eh? Eodiseo eommoni?”

.......

“Arraseo, aku segera kesana”

*KLIK*

“Wae Jiyong? Eommoni siapa yang tadi kau ajak bicara?” tanya ku penasaran.

“Bom noona sekarang dirawat dirumah sakit yang sama denganmu” jawab Jiyong parau.

“Mwo? Wae? Kenapa Bom disini?!”

“Eoh.. eum.. Bom noona.. mengidap sirosis hati kronis hyung..” terang Jiyong terbata, mengatur nafasnya yang sudah memburu.

Keterangan darinya membuatku shock. Aku tidak pernah mendengar keluhan penyakit separah itu dari Bom. Apa dia menyembunyikannya dariku? Selam ini Bom sangat terbuka dalam bercerita apapun padaku. Tapi ini??

Kepalaku terasa berat sekarang dan.. eobseo.. aku serasa melayang..

--

*Bom POV*

“hhhhhh” sakit.. aku tak tahan dengan rasa sakit disekujur tubuhku. Rasanya ingin mati saja.

“Nyonya Lee? Kami mendapatkan pendonor hati, bisa kita lakukan operasi sekarang? Lebih cepat lebih baik” samar kudengar uisa berbincang dengan eommaku.

Ya Tuhan.. akhirnya ada pendonor hati, aku sudah putus asa karena tak ada harapan hidup lagi bagiku.

Kurasakan kasur yang aku tempati bergeser dari tempatnya. Memasuki ruangan lain. Ruang operasi? Mungkin. Kulihat Seunghyun oppa berdiri tepat disisiku.

Seunghyun oppa? Aku tersenyum kecil melihatnya. Dia membalas senyumku. Kurasakan semuanya perlahan mulai terasa gelap.

--

-Seminggu kemudian-

“Noona! Sudah baikkan?” tanya Jiyong ceria sambil mengganti bunga di vas dekat jendela kamar rumah sakit ini.

Aku hanya tersenyum mengangguk menjawabnya. Aku merindukan Seunghyun Oppa.

“Jiyong. Apa kabar Seunghyun Oppa? Aku merindukannya” kataku lancar, membuat Jiyong menghentikan aktivitasnya dan menatapku nanar. Eh?

“Jiyong, jahat kah jika ada seseorang yang mengatakan, bahwa Ia takut pada kekasihnya sendiri dan mulai menghindari kekasihnya itu?”

Jiyong tak menjawab, dia menatapku dengan tatapan tak mengerti.

“Aku berkata begitu pada Seunghyun Oppa.” Kataku mengaku dipenuhi rasa sesal.

“Apakah Seunghyun Oppa marah padaku? Aku menghindarinya karena aku tak mau dia sedih jika aku menginggalkannya untuk selamanya, aku tak mau dia merasa terpukul jika aku pergi, karna waktu itu memang sudah tak ada harapan hidup bagiku, tak ada transplantasi hati untukku.” Dadaku sesak. Aku merasa menjadi orang jahat. Apa Seunghyun Oppa marah padaku, ya?

Kulihat air mulai menggenang di pelupuk mata Jiyong. Dia menghampiriku, memberikan secarik kertas untukku.

“dari Seunghyun Hyung” ucapnya singkat dan berlalu dihadapanku.

Ku buka surat itu.

“Bom-ah. Jangan aneh kalau aku menulis surat ini, aku meminta Jiyong yang menuliskannya untukku kekeke~ Mungkin ketika kau membaca surat ini aku sudah tidak ada lagi di dunia. Takkan lagi ada disampingmu. Maaf. Tapi tenag saja, aku selalu bersamamu. Hatimu adalah hatiku. Jaga hatiku baik-baik. Aku selalu menyayangimu.


Bom-ah banyak yang ingin aku ceritakan padamu. Hmm.. ini tentang masalah pribadiku yang tak ingin seorangpun tahu tentang ini. Eum.. sebenarnya aku mengidap penyakit kanker otak stadium akhir. Aku enggan menjalani pengobatan terapi yang membuat rambutku rontok. Toh pasti tak berpengaruh banyak pada perpanjangan usiaku. Karena itu, penyakit ini telah menggerogoti mataku, merusak kornea mataku sehingga tak berfungsi lagi, dan mungkin lensaku juga rusak, sehingga warna mataku berbeda eoh? Mianhae, seharusnya aku bercerita ini dari dulu tapi aku tidak ingin kau merasa terbebani. Mianhae aku telah membuatmu ketakutan dengan perubahan lensa mataku. Aku tak tau akibat penyakit ini sampai begitu kekeke~~


Eum.. Bom-ah, Let us be together forever no matter what happens. Let us be together when we’re happy and when we’re sad. When the time passes, I will have to disappear. The world without you is like a capital punishment. The world doesn’t go correctly without you. Please remember the me that stood next to you. Please don’t ever forget me.


Saranghae Bom-ah! Aku selalu ada bersamamu, dihatimu.


I love you, baby i’m not a monster.


Yours till niagara fall
Choi Seunghyun ♥”

Kuremas surat itu, dadaku terasa sangat sesak, air mataku tak terbendung lagi. Kupegang letak hatiku, dapat kurasakan kau bersamaku Seunghyun-ah. Saranghae, jeongmal sranghae!

“You’re not a monster, my angel” lirihku.

Minggu, 04 Maret 2012

Penantian Sang Ayah


Penantian Sang Ayah
Oleh: Tidak Diketahui
Sumber: Milis Motivasi

Tersebutlah seorang ayah yang mempunyai anak. Ayah ini sangat menyayangi anaknya. Di suatu weekend, si ayah mengajak anaknya untuk pergi ke pasarmalam. Mereka pulang sangat larut. Di tengah jalan, si anak melepas seatbeltnya karena merasa tidak nyaman. Si ayah sudah menyuruhnya memasang kembali, namun si anak tidak menurut. Benar saja, di sebuah tikungan, sebuah mobil lain melaju kencang tak terkendali. Ternyata pengemudinya mabuk. Tabrakan tak terhindarkan. Si ayah selamat, namun si anak terpental keluar. Kepalanya membentur aspal, dan menderita gegar otak yang cukup parah. Setelah berapa lama mendekam di rumah sakit, akhirnya si anak siuman. Namun ia tidak dapat melihat dan mendengar apapun. Buta tuli. Si ayah dengan sedih, hanya bisa memeluk erat anaknya,karena ia tahu hanya sentuhan dan pelukan yang bisa anaknya rasakan.

Begitulah kehidupan sang ayah dan anaknya yang buta-tuli ini. Dia senantiasa menjaga anaknya. Suatu saat si anak kepanasan dan minta es, si ayah diamsaja. Sebab ia melihat anaknya sedang demam, dan es akan memperparah demam anaknya. Di suatu musim dingin, si anak memaksa berjalan ke tempat yang hangat, namun si ayah menarik keras sampai melukai tangan si anak, karena ternyata tempat 'hangat' tersebut tidak jauh dari sebuah gedung yang terbakar hebat.

Suatu kali anaknya kesal karena ayahnya membuang liontin kesukaannya. Si anak sangat marah, namun sang ayah hanya bisa menghela nafas. Komunikasinya terbatas. Ingin rasanya ia menjelaskan bahwa liontin yang tajam itu sudah berkarat. namun apa daya si anak tidak dapat mendengar, hanya dapat merasakan. Ia hanya bisa berharap anaknya sepenuhnya percaya kalau papanya hanya melakukan yang terbaik untuk anaknya.

Saat-saat paling bahagia si ayah adalah saat dia mendengar anaknya mengutarakan perasaannya, isi hatinya. Saat anaknya mendiamkan dia, dia merasa tersiksa, namun ia senantiasa berada disamping anaknya, setia menjaganya. Dia hanya bisa berdoa dan berharap, kalau suatu saat Tuhan boleh memberi mujizat. Setiap hari jam 4 pagi, dia bangun untuk mendoakan kesembuhan anaknya. Setiap hari.

Beberapa tahun berlalu. Di suatu pagi yang cerah, sayup-sayup bunyi kicauan burung membangunkan si anak. Ternyata pendengarannya pulih! Anak ituberteriak kegirangan, sampai mengejutkan si ayah yg tertidur di sampingnya. Kemudian disusul oleh pengelihatannya. Ternyata Tuhan telah mengabulkan doa sang ayah. Melihat rambut ayahnya yang telah memutih dan tangan sang ayah yg telah mengeras penuh luka, si anak memeluk erat sang ayah, sambil berkata."Ayah, terima kasih ya, selama ini engkau telah setia menjagaku."

Sahabatku, terkadang seperti Anak itulah Tingkah kita. Terkadang kita Buta dan Tuli, tidak mau sedikitpun mendengar dan melihat sekeliling kita. TapiTuhan sebagai AYAH YANG BAIK dan SETIA pada Kita. Dia selalu dengan SabarMenuntun dan Menolong Kita.

Hati seorang Ayah

Hati Seorang Ayah
Oleh: Tidak Diketahui

Suatu ketika, ada seorang anak perempuan yang bertanya kepada ayahnya, tatkala tanpa sengaja dia melihat ayahnya sedang mengusap wajahnya yang mulai berkerut-merut dengan badannya yang terbongkok-bongkok, disertai suara batuk-batuknya.

Anak perempuan itu bertanya pada ayahnya : "Ayah, mengapa wajah ayah kian berkerut-merut dengan badan ayah yang kian hari kian membongkok ?"

Demikian pertanyaannya, ketika ayahnya sedang berehat di beranda.

Si ayah menjawab : "Sebab aku lelaki."

Anak perempuan itu berkata sendirian : "Aku tidak mengerti".

Dengan kerut-kening kerana jawapan ayahnya membuatnya termenung rasa kebingungan.

Ayah hanya tersenyum, lalu dibelainya rambut anaknya itu, terus menepuk-nepuk bahunya, kemudian si ayah mengatakan : "Anakku, kamu memang belum mengerti tentang lelaki."

Demikian bisik Si ayah, yang membuat anaknya itu bertambah kebingungan.

Kerana perasaan ingin tahu, kemudian si anak itu mendapatkan ibunya lalu bertanya kepada ibunya : "Ibu, mengapa wajah Ayah jadi berkerut-merut dan badannya kian hari kian membongkok? Dan sepertinya ayah menjadi demikian tanpa ada keluhan dan rasa sakit ?"

Ibunya menjawab : "Anakku, jika seorang lelaki yang benar-benar bertanggungjawab terhadap keluarga itu memang akan demikian."

Hanya itu jawapan si ibu. Si anak itupun kemudian membesar dan menjadi dewasa, tetapi dia tetap juga masih tercari-cari jawapan, mengapa wajah ayahnya yang tampan menjadi berkerut-merut dan badannya menjadi membongkok?

Hingga pada suatu malam, dia bermimpi. Di dalam impian itu seolah- olah dia mendengar suara yang sangat lembut, namun jelas sekali. Dan kata-kata yang terdengar dengan jelas itu ternyata suatu rangkaian kalimah sebagai jawapan rasa kebingungannya selama ini.

"Saat Ku-ciptakan lelaki, aku membuatnya sebagai pemimpin keluarga serta sebagai tiang penyangga dari bangunan keluarga, dia senantiasa akan berusaha untuk menahan setiap hujungnya, agar keluarganya merasa aman, teduh dan terlindung."

"Ku ciptakan bahunya yang kuat dan berotot untuk membanting- tulang menghidupi seluruh keluarganya dan kegagahannya harus cukup kuat pula untuk melindungi seluruh keluarganya."

"Ku berikan kemahuan padanya agar selalu berusaha mencari sesuap nasi yang berasal dari titisan keringatnya sendiri yang halal dan bersih, agar keluarganya tidak terlantar, walaupun seringkali dia mendapat cercaan dari anak-anaknya".

"Ku berikan keperkasaan dan mental baja yang akan membuat dirinya pantang menyerah, demi keluarganya dia merelakan kulitnya tersengat panasnya matahari, demi keluarganya dia merelakan badannya berbasah kuyup kedinginan dan kesejukan kerana tersiram hujan dan dihembus angin, dia relakan tenaga perkasanya dicurahkan demi keluarganya, dan yang selalu dia ingat, adalah disaat semua orang menanti kedatangannya dengan mengharapkan hasil dari jerih- payahnya."

"Kuberikan kesabaran, ketekunan serta kesungguhan yang akan membuat dirinya selalu berusaha merawat dan membimbing keluarganya tanpa adanya keluh kesah, walaupun disetiap perjalanan hidupnya keletihan dan kesakitan kerapkali menyerangnya".

"Ku berikan perasaan cekal dan gigih untuk berusaha berjuang demi mencintai dan mengasihi keluarganya, didalam suasana dan situasi apapun juga, walaupun tidaklah jarang anak-anaknya melukai perasaannya, melukai hatinya.

Padahal perasaannya itu pula yang telah memberikan perlindungan rasa aman pada saat dimana anak-anaknya tertidur lelap. Serta sentuhan perasaannya itulah yang memberikan kenyamanan bila saat dia sedang menepuk-nepuk bahu anak-anaknya agar selalu saling menyayangi dan saling mengasihi sesama saudara."

"Ku berikan kebijaksanaan dan kemampuan padanya untuk memberikan pengertian dan kesedaran terhadap anak-anaknya tentang saat kini dan saat mendatang, walaupun seringkali ditentang bahkan dikotak-katikkan oleh anak-anaknya."

"Ku berikan kebijaksanaan dan kemampuan padanya untuk memberikan pengetahuan dan menyedarkan, bahawa isteri yang baik adalah isteri yang setia terhadap suaminya, isteri yang baik adalah isteri yang senantiasa menemani, dan bersama-sama menghadapi perjalanan hidup baik suka mahupun duka, walaupun seringkali kebijaksanaannya itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada isteri, agar tetap berdiri, bertahan, sepadan dan saling melengkapi serta saling menyayangi."

"Ku berikan kerutan diwajahnya agar menjadi bukti, bahawa lelaki itu senantiasa berusaha sekuat daya fikirnya untuk mencari dan menemukan cara agar keluarganya dapat hidup didalam keluarga bahagia dan badannya yang terbongkok agar dapat membuktikan, bahawa sebagai lelaki yang bertanggungjawab terhadap seluruh keluarganya, senantiasa berusaha mencurahkan sekuat tenaga serta segenap perasaannya, kekuatannya, kesungguhannya demi kelanjutan hidup keluarganya."

"Ku berikan kepada lelaki tanggungjawab penuh sebagai pemimpin keluarga, sebagai tiang penyangga ( seri / penyokong ), agar dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Dan hanya inilah kelebihan yang dimiliki oleh lelaki, walaupun sebenarnya tanggungjawab ini adalah amanah di dunia dan akhirat."

Terkejut si anak dari tidurnya dan segera dia berlari, berlutut dan berdoa hingga menjelang subuh. Setelah itu dia hampiri bilik ayahnya yang sedang berdoa, ketika ayahnya berdiri si anak itu menggenggam dan mencium telapak tangan ayahnya.

"Aku mendengar dan merasakan bebanmu, ayah."

Note :
Bila ayah anda masih hidup jangan sia-siakan kesempatan untuk membuat hatinya gembira. Bila ayah anda telah tiada, jangan putuskan tali silaturahmi yang telah dirintisnya dan doakanlah agar Allah selalu menjaganya dengan sebaik-baiknya. Amin.

Sabtu, 03 Maret 2012

Kesombongan pendoa

Kesombongan Pendoa
Oleh: Tidak Diketahui
Kiriman: Toekang
Sumber: Motivasi Net

Sebuah kapal karam diterjang badai hebat. Hanya dua lelaki yang bisa menyelamatkan diri dan berenang ke pulau kecil yang gersang. Dua orang yang selamat itu tak tahu apa yang harus dilakukan kecuali berdoa. Untuk mengetahui doa siapakah yang paling dikabulkan, mereka sepakat membagi pulau kecil itu menjadi dua dan mereka tinggal berseberangan.

 Doa pertama, mereka memohon diturunkan makanan. Esok harinya, lelaki ke satu melihat sebuah pohon penuh buah-buahan tumbuh di sisi tempat tinggalnya. Sedangkan di daerah tempat tinggal lelaki yang lainnya tetap kosong.

 Seminggu kemudian. Lelaki ke satu merasa kesepian dan memutuskan berdoa agar diberikan istri, keesokan harinya, ada kapal karam dan satu-satunya penumpang yang selamat adalah seorang wanita yang terdampar di sisi pulau tepat lelaki ke satu tinggal. Sedangkan di sisi tempat tinggal lelaki ke dua tetap saja tidak ada apa-apanya.

 Segera saja, lelaki ke satu ini berdoa memohon rumah, pakaian dan makanan. Keesokan harinya, seperti keajaiban, semua yang diminta hadir untuknya. Sedangkan lelaki yang kedua tetap saja tidak mendapatkan apa-apa.

Akhirnya, lelaki ke satu ini berdoa meminta kapal agar ia dan istrinya dapat meninggalkan pulau itu. Pagi hari mereka menemukan kapal tertambat di sisi pantainya. Segera saja lelaki ke satu dan istrinya naik ke atas kapal dan siap-siap berlayar meninggalkan pulau itu. Ia pun memutuskan meninggalkan lelaki kedua yang tinggal di sisi lain pulau.

Menurutnya lelaki kedua itu tidak pantas menerima berkat tersebut karena doa-doanya tak pernah terkabulkan. Begitu kapal siap berangkat, lelaki kesatu mendengar suara dari langit, "Hai. Mengapa engkau meninggalkan rekanmu yang ada di sisi lain pulau ini?" "Berkatku hanyalah milikku sendiri, hanya karena doakulah yang dikabulkan," jawab lelaki kesatu.

"Doa temanku itu tak satupun dikabulkan. Maka ia tak pantas mendapatkan apa-apa," "Kau salah!" suara itu membahana. "Tahukah kau bahwa rekanmu itu hanya memiliki satu doa. Dan semua doanya terkabulkan. Bila tidak, maka kau takkan mendapatkan apa-apa." Lelaki ke satu itu bertanya, "Doa macam apa yang ia panjatkan sehingga aku harus berhutang atas semua ini padanya?" "Ia berdoa agar semua doamu dikabulkan" Kesombongan macam apakah yang membuat kita merasa lebih baik dari yang lain? Banyak orang yang telah mengorbankan segala sesutau demi keberhasilan kita. Tak selayaknya kita mengabaikan peran orang lain, dan janganlah menilai sesuatu hanya dari "yang terlihat" saja

Berjalan dengan keong

Berjalan Dengan Keong
Oleh: Tidak Diketahui

Tuhan memberiku sebuah tugas, yaitu membawa keong jalan-jalan. Aku tak dapat jalan terlalu cepat, keong sudah berusaha keras merangkak. Setiap kali hanya beralih sedemikian sedikit. Aku mendesak, menghardik, memarahinya, Keong memandangku dengan pandangan meminta-maaf, serasa berkata : "aku sudah berusaha dengan segenap tenaga !" Aku menariknya, menyeret, bahkan menendangnya, keong terluka. Ia mengucurkan keringat, nafas tersengal-sengal, merangkak ke depan.

Sungguh aneh, mengapa Tuhan memintaku mengajak seekor keong berjalan-jalan. Ya Tuhan! Mengapa ? Langit sunyi-senyap. Biarkan saja keong merangkak didepan, aku kesal dibelakang. Pelankan langkah, tenangkan hati....

 Oh? Tiba-tiba tercium aroma bunga, ternyata ini adalah sebuah taman bunga. Aku rasakan hembusan sepoi angin, ternyata angin malam demikian lembut. Ada lagi! Aku dengar suara kicau burung, suara dengung cacing. Aku lihat langit penuh bintang cemerlang.

Oh? Mengapa dulu tidak rasakan semua ini ? Barulah aku teringat, Mungkin aku telah salah menduga! Ternyata Tuhan meminta keong menuntunku jalan-jalan sehingga aku dapat mamahami dan merasakan keindahan taman ini yang tak pernah kualami kalo aku berjalan sendiri dengan cepatnya. "He's here and with me for a reason"

Saat bertemu dengan orang yang benar-benar engkau kasihi, Haruslah berusaha memperoleh kesempatan untuk bersamanya seumur hidupmu. Karena ketika dia telah pergi, segalanya telah terlambat. Saat bertemu teman yang dapat dipercaya, rukunlah bersamanya. Karena seumur hidup manusia, teman sejati tak mudah ditemukan. Saat bertemu penolongmu, Ingat untuk bersyukur padanya.

Karena ialah yang mengubah hidupmu Saat bertemu orang yang pernah kau cintai, Ingatlah dengan tersenyum untuk berterima-kasih . Karena ia lah orang yang membuatmu lebih mengerti tentang kasih. Saat bertemu orang yang pernah kau benci, Sapalah dengan tersenyum. Karena ia membuatmu semakin teguh / kuat. Saat bertemu orang yang pernah mengkhianatimu,Baik-baiklah berbincanglah dengannya. Karena jika bukan karena dia, hari ini engkau tak memahami dunia ini. Saat bertemu orang yang pernah diam-diam kau cintai, Berkatilah dia.

Karena saat kau mencintainya, bukankah berharap ia bahagia ? Saat bertemu orang yang tergesa-gesa meninggalkanmu, Berterima-kasihlah bahwa ia pernah ada dalam hidupmu. Karena ia adalah bagian dari nostalgiamu Saat bertemu orang yang pernah salah-paham padamu, Gunakan saat tersebut untuk menjelaskannaya. Karena engkau mungkin hanya punya satu kesempatan itu saja untuk menjelaskan Saat bertemu orang yang saat ini menemanimu seumur hidup, Berterima-kasihlah sepenuhnya bahwa ia mencintaimu. Karena saat ini kalian mendapatkan kebahagiaan dan cinta sejati..

Cerita dibalik jendela

Cerita Dibalik Jendela 
Oleh: Tidak Diketahui

Dua orang pria, keduanya menderita sakit keras, sedang dirawat di sebuah kamar rumah sakit. Seorang di antaranya menderita suatu penyakit yang mengharuskannya duduk di tempat tidur selama satu jam di setiap sore untuk mengosongkan cairan dari paru-parunya.

Kebetulan, tempat tidurnya berada tepat di sisi jendela satu-satunya yang ada di kamar itu. Sedangkan pria yang lain harus berbaring lurus di atas punggungnya. Setiap hari mereka saling bercakap-cakap selama berjam-jam. Mereka membicarakan istri dan keluarga, rumah, pekerjaan, keterlibatan mereka di ketentaraan, dan tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi selama liburan.

Setiap sore, ketika pria yang tempat tidurnya berada dekat jendela di perbolehkan untuk duduk, ia menceritakan tentang apa yang terlihat di luar jendela kepada rekan sekamarnya. Selama satu jam itulah, pria ke dua merasa begitu senang dan bergairah membayangkan betapa luas dan indahnya semua kegiatan dan warna-warna indah yang ada di luar sana. "Di luar jendela, tampak sebuah taman dengan kolam yang indah. Itik dan angsa berenang-renang cantik, sedangkan anak-anak bermain dengan perahu-perahu mainan. Beberapa pasangan berjalan bergandengan di tengah taman yang dipenuhi dengan berbagai macam bunga berwarnakan pelangi. Sebuah pohon tua besar menghiasi taman itu. Jauh di atas sana terlihat kaki langit kota yang mempesona. Suatu senja yang indah." Pria pertama itu menceritakan keadaan di luar jendela dengan detil, sedangkan pria yang lain berbaring memejamkan mata membayangkan semua keindahan pemandangan itu.

Perasaannya menjadi lebih tenang, dalam menjalani kesehariannya di rumah sakit itu. Semangat hidupnya menjadi lebih kuat, percaya dirinya bertambah. Pada suatu sore yang lain, pria yang duduk di dekat jendela menceritakan tentang parade karnaval yang sedang melintas. Meski pria yang ke dua tidak dapat mendengar suara parade itu, namun ia dapat melihatnya melalui pandangan mata pria yang pertama yang menggambarkan semua itu dengan kata-kata yang indah.

Begitulah seterusnya, dari hari ke hari. Dan, satu minggu pun berlalu. Suatu pagi, perawat datang membawa sebaskom air hangat untuk mandi. Ia mendapati ternyata pria yang berbaring di dekat jendela itu telah meninggal dunia dengan tenang dalam tidurnya. Perawat itu menjadi sedih lalu memanggil perawat lain untuk memindahkannya ke ruang jenazah. Kemudian pria yang kedua ini meminta pada perawat agar ia bisa dipindahkan ke tempat tidur di dekat jendela itu. Perawat itu menuruti kemauannya dengan senang hati dan mempersiapkan segala sesuatu ya.

Ketika semuanya selesai, ia meninggalkan pria tadi seorang diri dalam kamar. Dengan perlahan dan kesakitan, pria ini memaksakan dirinya untuk bangun. Ia ingin sekali melihat keindahan dunia luar melalui jendela itu. Betapa senangnya, akhirnya ia bisa melihat sendiri dan menikmati semua keindahan itu. Hatinya tegang, perlahan ia menjengukkan kepalanya ke jendela di samping tempat tidurnya. Apa yang dilihatnya? Ternyata, jendela itu menghadap ke sebuah TEMBOK KOSONG!!!

 Ia berseru memanggil perawat dan menanyakan apa yang membuat teman pria yang sudah wafat tadi bercerita seolah-olah melihat semua pemandangan yang luar biasa indah di balik jendela itu. Perawat itu menjawab bahwa sesungguhnya pria tadi adalah seorang yang buta bahkan tidak bisa melihat tembok sekalipun. "Barangkali ia ingin memberimu semangat hidup," kata perawat itu. 

Untuk direnungkan: Ujaran-ujaran yang bersemangat, tutur kata yang membangun, selalu menghadirkan sisi terbaik dalam hidup kita. Menyampaikan setiap ujaran dengan santun, akan selalu lebih baik daripada menyampaikannya dengan ketus, gerutu, atau dengan kesal. Menyampaikan keburukan, sebanding dengan setengah kemuraman, namun, menyampaikan kebahagiaan akan melipatgandakan kebahagiaan itu sendiri. Ada hal-hal yang mempesona saat kita mampu memberikan kebahagiaan kepada orang lain.